Senin, April 25

Jihad Islam: Palestina, Tingkatkan Tangkap Tentara Israel!



Gerakan Jihad Islam di Beirut meminta kelompok-kelompok muqawama Palestina meningkatkan penangkapan tentara Zionis Israel.

Kantor berita Qodsna mengutip dari situs "Palestine Today" menyebutkan, Haitsam Abu Ghazlan meyakini bahwa satu-satunya jalan untuk membebaskan para tawanan Paletina adalah menahan tentara Zionis lebih banyak lagi".

Pernyataan itu dikemukakannya dalam aksi mogok di depan kantor Palang Merah di Beirut dalam rangka mendukung para tawanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Dalam aksi mogok itu, hadir dan berpidato pula Marhaj Bashara mantan menteri kabinet Lebanon, Marwan Faris anggota parlemen Lebanon, Haaj Ataullah, Ketua Komisi Pembelaan Tahanan Palestina dalam gerakan Hizbullah.

Mereka menekankan perlawanan terhadap segala bentuk kerakusan Zionis serta menilai bahwa satu-satunya cara paling efektif untuk membebaskan tawanan Palestina adalah menahan tentara Zionis yang lebih banyak. IRIB/MZ. [adm/republika]

Jumat, Maret 25

Netanyahu Ajak Medvedev Perangi Ekstrimis Islam


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev di Moscow, Kamis (24/3) kemarin. Sebelum pertemuan, keduanya menyempatkan diri berbicara kepada wartawan.

"Itu sebuah kenyataan bahwa kita memiliki pengalaman gempa di Jepang dan Selandia Baru, dan di Timur Tengah dan Afrika utara," ujar Netanyahu. "Mereka telah menjadi banjir, badai pasir, tsunami dan kebakaran. Kita telah menanggulangi kebakaran itu dan saya mengucapkan terima kasih. Anda mengirim pilot dengan cepat. Keberanian mereka patut dicontoh dan profesional. Mereka membuat kesan yang mendalam dan saya ingin sekali dalam kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada Anda dan pemerintah Rusia sekali lagi untuk bantuan segera diberikan kepada kita di saat kita membutuhkan," tuturnya.

"Sekarang, kebakaran lain harus dipadamkan," netanyahu melanjutkan. "Tidak ada satupun diantara kita mengetahui bagaimana bentrokan yang melanda seluruh dunia Arab dan sebagian besar dunia Islam akan berakhir. Saya pikir kita memiliki keinginan yang sama bahwa harus ada pemerintah stabil, progresif dan modern yang bercita-cita untuk perdamaian," tuturnya.

"Israel, Rusia dan seluruh dunia modern harus mencegah pembentukan radikal di sini --mungkin radikal Islam-- rezim yang bisa mengancam perdamaian di wilayah ini, Israel dan Rusia. Satu rezim seperti bercita-cita untuk hasil ini dan itu adalah rezim radikal di Iran, yang tidak hanya mempersenjatai diri dengan senjata nuklir tetapi mengancam menggunakannya untuk melawan kita, dan mengancam untuk menghancurkan tidak hanya perjanjian damai tetapi setiap rezim modern yang muncul. Ia ingin kembali kita ke abad kesembilan. Kami memiliki kepentingan dalam menghentikan sesuatu yang buruk dan memajukan yang baik. Saya akan senang untuk membicarakan dengan Anda bagaimana untuk meningkatkan perdamaian dan keamanan di kawasan kita. Saya ingin membicarakan hal ini dengan Anda," bebernya.

Sementara Medvedev mulai dengan menyatakan belasungkawanya terkait serangan teroris yang pada Rabu kemarin di Yerusalem. "Kami telah secara langsung mengetahui tentang bahaya yang ditimbulkan oleh terorisme," katanya. "Sayangnya, Rusia, juga telah terpukul oleh serangan teroris tahun ini. Yang membuat pertemuan kami hari ini sangat berharga karena hal utama adalah bahwa kita tidak boleh membiarkan teroris percaya bahwa mereka dekat untuk mencapai tujuan keji mereka," tuturnya.

"Kami memiliki banyak hal untuk membahas. Telah lama sejak pertemuan terakhir kami dan banyak peristiwa besar telah terjadi sejak saat itu, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. Perubahan terjadi di sana benar-benar tektonik dan tidak bisa tidak mempengaruhi keseluruhan situasi, yang kita harus mendiskusikan sebagai mitra," tandas Medvedev. [adm/republika]

Rabu, Maret 16

Pejuang Asy-Syabaab Bentrok dengan Pasukan Pemerintah, 60 Orang Tewas



Bentrokan antara tentara pemerintah yang didukung oleh pasukan Uni Afrika dan pejuang Asy-Syabaab telah menyebabkan lebih dari 60 orang tewas di Somalia selatan.

Setidaknya 62 tentara Somalia tewas pada hari Senin kemarin (14/3) setelah pertempuran sengit pecah antara pejuang Asy-Syabaab dan pasukan pemerintah transisi di kota Belet-hawo di wilayah Gedo. Sekitar 33 orang lainnya juga terluka dalam pertempuran itu, seorang koresponden Press TV di Mogadishu melaporkan pada hari Selasa ini (15/3).

Selain itu, puluhan pejuang Asy-Syabaab tewas dan terluka dalam pertempuran berdarah tersebut, laporan itu menambahkan.

Pejuang Asy-Syabaab kini menguasai kota perbatasan di Somalia selatan. Mereka merebut kembali Belet-hawo beberapa hari setelah pasukan pemerintah Somalia menguasai kota itu.

Somalia tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi sejak tahun 1991 ketika panglima perang menggulingkan mantan diktator Muhamamd Siad Barre.

Pemerintah Somalia telah berjuang selama bertahun-tahun untuk memulihkan keamanan, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasi. Hampir satu juta orang telah meninggal setelah bertahun-tahun pertempuran antara panglima perang yang saling bersaing dan juga disebabkan ketidakmampuan negara untuk mengatasi kelaparan dan penyakit. [adm/eramuslim]

Demonstran Kuasai 2 Kota di Yaman





AL-JAWF 
- Pendemo anti-pemerintah yang terus meningkat di Yaman, telah mengambil alih kontrol atas dua kota utama di utara dan timur negeri.

Pendemo dilaporkan mengambil alih Al-Jawf yang berbatasan dengan Arab Saudi di wilayah timurlaut pada Senin (14/3/2011). Tiga tentara pemerintah tewas dalam bentrokan.

Pendemo juga mengambil alih kontrol Marib, di mana beberapa lokasi gas dan minyak dijalankan oleh perusahaan internasional.

Sebelumnya dilaporkan gubernur Marib, Ahmed Naji al-Zaidi telah diserang dan mengalami luka selama protes anti-pemerintah di luar markas pemerintah di provinsi tersebut. Ia masih mendapatkan perawatan di Sana'a.

Sementara itu, salah satu federasi kesukuan terbesar Yaman, Baqil, bergabung dengan pendemo di ibukota.

Dua pejabat tinggi juga bergabung dengan pendemo.

Hal ini datang disaat polisi Yaman melakukan tindak kekerasan dalam upaya menekan pendemo. Tentara keamanan mengelilingi kamp pendemo di Sana'a.

Sedikitnya 40 orang terluka di ibukota setelah polisi melepaskan tembakan ke arah pendemo kemarin.

Pendemo menyerukan mundurnya Presiden Ali Abdullah Saleh setelah tiga dekade lebih berkuasa di Yaman. [adm/arrahmah]

Saudi deklarasikan perang terhadap rakyat Bahrain





AL-MANAMAH 
- Pemimpin oposisi Bahrain mengatakan pemerintah Saudi secara nyata memerangi rakyat Bahrain dengan mengirim pasukan untuk membantu menekan pemberontakan di negeri tersebut.

"Apa yang kita lihat hari ini adalah deklarasi perang melawan sipil tak bersenjata, yang dikatakan kriminal hanya karena terlibat dalam revolusi damai, untuk menentukan nasib mereka sendiri," ujar Saeed al-Shehabi, seperti yang dilaporkan Press TV.

"Jika mereka (Arab Saudi) melanjutkan kehadiran mereka maka itu adalah tidak lain deklarasi perang terhadap negara," tambah pemimpin oposisi.

Shehabi menyesalkan, "Ini adalah hari yang menyedihkan, tidak hanya untuk Bahrain tetapi juga untuk Dewan Kooperasi Teluk (GCC), karena aliansi seharusnya menjaga urusan rakyat daerah itu, bukan untuk melancarkan perang melawan negara lain."

"Sungguh menakjubkan melihat negara terbesar di aliansi ini menyerang sebuah negara kecil dan negara-negara lain yang bergabung di dalamnya," ujarnya.

Shehabi berpendapat, "Menurut piagam GCC, satu negara dapat meminta dukungan dari negara lain dalam aliansi bahwa hanya jika terjadi ageresi eksternal menentangnya.

"Dalam kasus Bahrain, kita tidak memiliki agresi eksternal, kita hanya memiliki masalah internal yang harus diselesaikan di dalam negeri sendiri bukan oleh invasi."

Pada Senin (14/3/2011) negara anggota GCC, seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman dan Qatar mengirim angkatan bersenjata mereka ke pulau Teluk Persia atas permintaan Manama untuk meredam protes di seluruh negeri yang menentang pemerintah.

Terinspirasi oleh revolusi Tunisia dan Mesir, puluhan rakyat Bahrain turun ke jalan di ibukota Manama sejak pertengahan Februari untuk mengakhiri dinasti Al-Khalifa yang telah memerintah selama hampir dua abad. [adm/arrahmah]

Selasa, Maret 15

Mesir Tidak Lagi Batasi Parpol



Mesir akan menghilangkan pembatasan pembentukan partai-partai politik yang pernah diterapkan selama masa kekuasaan Hosni Mubarak, setelah konstitusi diamandemen lewat referedum tanggal 19 Maret mendatang. Demikian keterangan dari sumber militer menyebutkan, Sabtu (13/3).

Pada masa Mubarak partai politik (parpol) harus mendapat persetujuan komite di majelis tinggi parlemen, yang anggotanya merupakan tokoh-tokoh terkemuka dari Partai Nasional Demokrat, partainya Mubarak.

Tentara yang mengambil alih kekuasaan dari tangan Mubarak pada 11 Februari lalu telah membubarkan parlemen, merancang jalan pemilu parlemen dan presiden dalam waktu 6 bulan dan menggantung konstitusi.

Gerakan oposisi terbesar Al-Ikhwanul Al-Muslimun (Ikhwan) menyambut baik keputusan tersebut.

"Ini merupakan tuntutan nasional dan mewujudkannya adalah sebuah langkah penting dan sangat diperlukan untuk memberikan kebebasan pada partai-partai politik," kata anggota senior Ikhwan Essam Erian.

Ikhwan menanti-nanti dihapuskannya pembatasan parpol sehingga bisa membentuk partai sendiri.

Amandemen konstitusi yang direncanakan akan mencakup sebuah klausul yang menyatakan bahwa setelah dipilih, presiden yang baru akan meminta parlemen merancang konstitusi baru. Ikhwan yang lama ditekan oleh rezim Mubarak berencana ikut ambil bagian dalam hal ini.

"Peraturan kepartaian Mesir akan diamandemen setelah dilakukan referendum yang memungkinkan pembentukan partai hanya berdasarkan pada pemberitahuan," kata sebuah sumber militer kepada Reuters (13/3). [adm/hidayatullah]

Tentara Zionis Hajar Jamaah Palestina di Halaman Al Aqsa



Bentrok penuh kekerasan terjadi pada Ahad (14/3) pagi di Masjid Al Aqsa antara tentara Israel dan jamaah Palestina. Bentrok dipicu sikap tentara Zionis yang melecehkan masjid bersama dengan penduduk Yahudi.

Saksi mata Palestina menuturkan aksi pelecehan itu dlakukan para penghuni permukiman Yahudi di halaman masjid yang langsung dibalas oleh jamaah Palestina dengan meneriakkan nama Allah.

Namun tiba-tiba sejumlah tentara Israel menyerang mereka dengan keras dan melukai satu orang. Tentara Israel juga menahan tiga orang dalam insiden tersebut.

Mereka mengatakan bahwa tentara Israel meningkatkan jumlah keberadaan mereka di Masjid Al Aqsa menyusul bentrok tersebut.

Dalam kasus lain, masih dalam konteks yang sama, sebuah pengadilan Israel mengeluarkan larangan bagi seorang pemuda Palestina dari kota Umm Al-Fahm, untuk memasuki masjid Al Aqasa selama satu bulan. Sanksi itu dijatuhan atas sikapnya meneriakkan takbir dengan suara keras di dalam masjid. [adm/muslimdaily]

Jumat, Maret 4

Ratusan Demonstran Anti Pemerintah Berkumpul di Kota Baghdad



Ratusan orang berkumpul di pusat kota Baghdad untuk melakukan aksi demonstrasi anti-pemerintah meskipun adanya larangan menggunakan kendaraan sehingga memaksa para demonstran berjalan selama berjam-jam menuju ke jantung ibukota.

Sekitar 500 demonstran berkumpul di Tahrir Square Baghdad ipada Jumat pagi ini (4/3) untuk menuntut adanya perbaikan situasi keamanan, kenaikan gaji dan pelayanan pemerintah yang lebih baik.

Sebelumnya pasukan keamanan Irak telah memberlakukan larangan menggunakan kendaraan pada Kamis malam kemarin (3/3) di ibukota Baghdad yang memaksa ratusan demonstran berjalan bermil-mil. Pasukan keamanan Irak di seluruh negeri Jumat pekan lalu bentrok dengan para pengunjuk rasa dalam aksi demonstrasi kekerasan yang meluas di negara ini sejak gelombang kerusuhan mulai menyebar di seluruh Timur Tengah. Sedikitnya 14 orang tewas dalam aksi bentrokan tersebut. [adm/eramuslim]