Yahudi Terusir Ancaman Ledakkan Parlemen Israel

Kamis, November 12


TEL AVIV – Kepolisian Israel membekuk seorang pria Yahudi yang mengancam untuk meledakkan dirinya di dekat gedung parlemen. Hal itu dilakukan oleh pria Yahudi tersebut setelah dirinya diusir dari kediaman ilegalnya di Yerusalem pada hari Selasa (10/11), demikian kata seorang juru bicara polisi.

Pria Yahudi tersebut mengatakan kepada para petugas kepolisian bahwa dirinya datang ke Knesset untuk memprotes perintah pengusiran dari rumahnya, demikian kata juru bicara kepolisian, Micky Rosenfeld.

Polisi dan pemadam kebakaran langsung dikirimkan menuju lokasi dan pada akhirnya mampu mengendalikan keadaan.

Pria tersebut mengancam untuk menyulut tangki gas di mobilnya. Namun, meski Rosenfeld awalnya mengatakan bahwa kala itu tidak cukup jelas apakah pria tersebut membawa bahan peledak sebelum ia diringkus, ditemukan satu tangki gas di dalam mobil pria tersebut setelah dilakukan penggeledahan oleh petugas kepolisian.

Pria tersebut ditangkap oleh petugas keamanan di gerbang masuk lahan parkir Knesset pada sekitar pukul 10 pagi, demikian dilaporkan oleh Ynet News.

Menyusul peristiwa tersebut, pihak keamanan Knesset langsung menutup pintu masuk dan keluar gedung parlemen.

Pria tersebut dibekuk dan langsung digelandang untuk menjalani interogasi. Gerbang Knesset kemudian dibuka kembali setelah beberapa menit berlalu.

Situs berita Israel tersebut menambahkan bahwa peristiwa tersebut bukanlah masalah yang pertama kalinya terjadi di Knesset. Pada bulan April 2008, seorang wanita mengancam untuk bunuh diri tepat di luar gedung parlemen Israel tersebut.

Wanita tersebut mengemudikan sebuah van di jalan masuk menuju gedung Knesset dan mengancam untuk melakukan tindakan bunuh diri dan meledakkan mobil yang ditumpanginya. Wanita tersebut tidak sendirian dan membawa serta putrinya.

Ketegangan yang berlangsung selama tiga jam tersebut berakhir kala sang wanita menyerahkan diri kepada kepolisian.

“Dia meninggalkan kendaraan tersebut bersama dengan direktur jenderal Knesset,” kata juru bicara kepolisian Micky Rosenfeld. “Dia masuk ke dalam gedung untuk berbicara dan menyelesaikan masalahnya.”

“Untuk saat ini, wanita itu tidak akan ditangkap. Kami akan menyelidiki situasi ini terlebih dahulu,” kata Rosenfeld setelah para juru runding membujuknya untuk menyerahkan diri.

Para pejabat kepolisian dan juru runding dibantu oleh direktur jenderal Knesset, Avi Balashnikov, Menteri Perdagangan Eli Yishai dan Menteri Agama Yitzhak Cohen dalam membujuk wanita tersebut.

Wanita tersebut merupakan penduduk Ashkelon. Dia meminta bantuan pemerintah Israel untuk mendapatkan dua buah kursi roda untuk anak-anaknya.

Sebagai bagian dari persyaratan agar sang wanita mau keluar dari mobilnya, Balashnikov menjanjikan untuk memberikan bantuan kepada wanita tersebut.

Selama berunding, wanita tersebut tetap berada di dalam mobilnya dengan jendela tertutup dan memegang sebilah pisau dan mengancam untuk memotong tenggorokannya sendiri.

Shimon Yair, kawan wanita tersebut, dalam sebuah wawancara dengan radio Israel mengatakan bahwa wanita tersebut putus asa. Yair menambahkan bahwa dirinya berharap bahwa wanita tersebut tidak bunuh diri.

“Wanita itu juga mengklaim memiliki tangki gas dan menambahkan bahwa ia ingin bunuh diri,” katanya. “Polisi mendatangi lokasi kejadian ditemani dengan tim negosiator.”

Taliban Pakistan Kuatkan Perang Gerilya


Peshawar - Taliban Pakistan menyatakan akan memperpanjang perang gerilya terhadap militer Pakistan dan akan semakin keras, pernyataan tersebut mereka sampaikan dua hari lalu saat sebuah bom dengan daya ledak tinggi menghantam kota di baratlaut dan menewaskan 20 orang, kata polisi Pakistan.

Pada 17 Oktober kemarin militer Pakistan mulai melancarkan serangan besar-besaran di wilayah kesukuan Pashtun yang berbatasan dengan Afghanistan. Taliban merespon serangan tersebut dengan mengintensifkan serangan-serangan di kota-kota lain sejak operasi militer tersebut dilancarkan.

Serangan militer Pakistan di Waziristan saat ini diawasi dengan teliti oleh Amerika dan beberapa kekuatan lain di Afghanistan. Wilayah yang digempur militer tersebut merupakan wilayah pegunungan, hutan-hutan dan jurang-jurang lebar yang dipercaya sebagai pusat berkumpulnya milisi Islam seluruh dunia, berbagai pejuang Islam dari beberapa negara dipercaya sedang berlatih ditempat tersebut.

Tempat tersebut sudah dikepung dari tiga arah oleh militer Pakistan, sebelumnya militer Pakistan mengklaim berhasil mengambil alih beberapa wilayah, seperti kota Makeen. Namun pihak Taliban membantah bahwa pejuang Taliban memang menarik para pejuangnya dari wilayah tersebut sebagai salah strategi mereka, dan Taliban menyatakan jika tentara Pakistan saat ini sedang masuk perangkap mereka.

Juru bicara Taliban Azam Tariq menyatakan, "Mereka (tentara Pakistan -red) mengambil alih jalanan, namun para pejuang kami masih beroperasi bebas di hutan-hutan dan pegunungan", kata Tariq kepada Reuters melalui sambungan telefon dari tempat yang dirahasiakan.

"Kami telah memulai perang gerilya terhadap militer Pakistan. Kami telah melaksanakan beberapa aksi mematikan terhadap para tentara tersebut dan mereka mengalami kerugian banyak", kata Tariq Azam.

Menurut pernyataan militer, sudah 495 militan yang mereka bunuh selama operasi ini, sementara hanya 48 tentara Pakistan yang tewas hingga saat ini.

Namun sebetulnya tidak ada informasi yang independen atau yang dapat diverifikasi kebenarannya, sebab pengamat independen tidak diperbolehkan memasuki wilayah perang ini, kecuali hanya perjalanan kadang-kala yang harus di dampingi militer Pakistan. Para pengamat independen dilarang memasuki wilayah konflik sendirian.

Reuters menanyakan kepada Tariq Azam mengenai siapa saja yang mereka target dengan serangan bom bunuh diri. Tariq menjawab, "Siapa saja yang menghalangi gerakan kami akan kami beri pelajaran!".Tariq serukan perang panjang, lebih keras.

"Mereka mengira mereka dapat menguasai Waziristan dengan mudah, namun sebetulnya pertempuran di Waziristan akan lebih keras dari pertempuran di Kashmir", katanya

Pasukan keamanan India telah berperang dengan gerilyawan Muslim di wilayah Himalaya Kashmir sejak tahun 1989. Selama itu, sudah 10 ribu penduduk tewas akibat pertempuran.

Kita masih menunggu siapa pemenang dari pertempuran di Waziristan ini. [adm/muslimdaily]

Mahasiswa Muslim Kembali Jadi Korban Pengeroyokan di London


Kepolisian London baru menggelar penyelidikan terhadap kasus serangan yang menimpa sejumlah mahasiswa Muslim asal Pakistan, padahal peristiwanya terjadi sepekan lalu. Pada Kamis (5/11) malam, sekelompok anak muda kulit putih dan kulit hitam yang jumlahnya sekitar 30 orang, mengeroyok beberapa mahasiswa Muslim di dekat City University, London Tengah.

Genk anak muda itu memukuli mahasiswa-mahasiswa Muslim itu dengan batangan logam, batu bata dan pentungan. Beberapa mahasiswa dan pejalan kaki yang mencoba melerai, bahkan ada yang terkena tusukan benda tajam. Menurut keterangan Federation of Student Islamic Societies, para pelaku pengeroyokan juga mengeluarkan kata-kata bernuansa rasial antara "Hajar orang-orang Muslim itu" dan "Pakis". Pakis adalah sebutan untuk merendahkan para imigran Muslim asal Pakistan.

Laporan situs harian Guardian menyebutkan, beberapa malam terakhir ini terjadi konfrontasi di dekat kampus dan insiden itu menjadi puncak dari konfrontasi tersebut. Sebelumnya, sekelompok anak muda juga mengganggu seorang mahasiswa Muslim yang sedang berjalan menuju ruang salat di kampus. Tidak puas mengganggu, anak-anak muda menyerang, tapi mahasiswa Muslim itu berhasil diselamatkan teman-temannya. Meski demikian, seorang mahasiswa mengalami retak tulang.

Melihat gejala yang mengkhawatirkan itu, organisasi Federation of Student Islamic Societies (FOSIS) meminta pihak universitas untuk memberikan jaminan keamanan pada para mahasiswa Muslim, karena pihak sekolah seolah menutup-tutupi kasus tersebut.

"Kami yakin pelaku serangan ini adalah orang-orang yang sama. Insiden seperti ini pernah terjadi di sejumlah universitas tahun 2008 lalu. Kami sudah melakukan konsultasi dengan aparat kepolisian dan pihak universitas. Kami juga meminta jaminan bahwa langkah pengamanan yang mereka lakukan untuk melindungi para mahasiswa dilakukan secara permanen, bukan cuma sementara," tukas Qasim Rafiq, jubir FOSIS.

Kepolisian Metropolitan London menyatakan, mereka sudah menempatkan petugasnya untuk berpatroli di sekeliling kampus dan untuk mencari siapa pelaku serangan. "Kami menangani masalah ini dengan sangat seirus," kata Detektif Inspektur Polisi Trevor Borley.

Menurutnya, aparat kepolisian sudah menangkap tiga remaja berusia antara 17 sampai 19 tahun terkait kasus pengeroyokan di City University.

Sementara pihak universitas dalam pernyataannya mengatakan, mereka syok dan prihatin atas peristiwa pengeroyokan itu dan sudah meningkatkan patroli keamanan di sekitar kampus dan tempat-tempat salat mahasiswa. Pihak universitas juga mengeluarkan peringatan pada seluruh mahasiswa agar selalu waspada. Belakangan ini, aksi-aksi anti-Muslim memang sedang marak di Inggris. [adm/eramuslim]

Inggris Desak Karzai Berdamai dengan Taliban

Rabu, November 11


Hamburg - Inggris diam-diam mendesak presiden Afghanistan yang terpilih kembali Hamid Karzai untuk membuat perdamaian dengan sebagian kecil anggota Taliban radikal, tulis majalah Jerman, Stern, hari Senin.

Dalam laman situs majalah tersebut disebutkan jika London mengirim pesan yang ditujukan ke sebuah kelompok yang bernama Quetta Shura, berbasis di Pakistan, kelompok tersebut disebut sebagai kelompok dengan kewenangan tertinggi Taliban, dan London meminta Karzai agar melakukan perdamaian dengan kelompok tersebut.

Sebelumnya, London berkali-kali mendesak Karzai untuk memberikan amnesty bagi para Taliban dan komandan-komandan regional. Majalah tersebut menuliskan, London sedang menekan agar komandan senior Taliban dan pemerintah bayangan disana diberi amnesty atau pengampunan.

Majalah Stern tersebut tidak memberikan sumber berita ini, namun laporan tersebut diberi sebuah gambar yang dipercaya merupakan sebuah dokumen rahasia milik Inggris. Harian Kabul Hashte Zob juga menuliskan mengenai kabar dokumen tersebut, namun tidak menyebutkan isi laporan memo tersebut.

Majalah tersebut menuliskan ijak London meminta Karzai bahwa kelompok yang tidak dimasukkan dalam rekonsiliasi nasional Afghanistan adalah kelompok Taliban yang mempunyai hubungan dengan Al Qaeda. Stern menulis bahwa para pemimpin Taliban saat ini mulai melepaskan diri mereka dari Al Qaeda.

Entah darimana majalah Jerman Stern ini mendapatkan sumber informasi bahwa para pemimpin Taliban saat ini mulai menjauhkan diri dari Al Qaeda yang beroperasi di Afghanistan. Pernyataan seperti ini biasanya akan dijawab oleh kelompok Al Qaeda melalui rilisan pesan video yang akan disampaikan oleh orang kedua Al Qaeda yaitu Syaikh Ayman al-Zawahiri atau Syaikh Mustafa Abu Yazid. [adm/muslimdaily]

Seorang Rabi Israel Dukung Pembunuhan Non-Yahudi


TEL AVIV - "Jika kita membunuh seorang kafir yang telah berdosa atau telah melanggar salah satu dari tujuh perintah - karena kita peduli tentang perintah-perintah tersebut - tidak ada yang salah dengan pembunuhan."

Ungkapan itu dikeluarkan oleh seorang Rabi Israel yang mendukung pembunuhan bayi-bayi non-Yahudi bayi yang, menurutnya, menimbulkan ancaman bagi Israel.

Rabi Yitzhak Shapiro baru-baru ini merilis sebuah buku berjudul The King's Torah. Shapiro, yang mengepalai sekolah agama Yosef Od Chai Yeshiva di Tepi Barat yang dijajah Israel, mengatakan orang-orang Yahudi diperbolehkan untuk membunuh non-Yahudi bahkan bayi-bayi dan anak-anak jika mereka dirasa menimbulkan ancaman bagi Israel, Haaretz melaporkan.

Shapiro pun mengatakan Yahudi diperbolehkan untuk membunuh 'mereka yang, dengan lisannya, melemahkan kedaulatan Israel'.

"Memang diperbolehkan membunuh, bahkan orang-orang 'berbudi' di antara bangsa-bangsa yang ada bahkan jika mereka tidak bertanggung jawab atas situasi yang mengancam," tulisnya.

Beberapa rabi terkemuka, termasuk Rabi Yitzhak Ginzburg dan Rabi Yaakov Yosef, juga telah merekomendasikan buku serupa untuk para siswa dan pengikutnya.

Selama tiga minggu serangan ofensif Israel di Jalur Gaza tahun lalu, beberapa rabi terkemuka mengeluarkan putusan yang memberikan izin untuk membunuh warga sipil di Jalur Gaza.

"Hal ini diperbolehkan, menurut Aturan Yahudi, untuk menembakkan mortar dan bom di lokasi penembakan, bahkan jika tempat itu dihuni oleh warga sipil," isi keputusan tersebut yang dibacakan oleh Rabi Yaakov Yosef, Rabi Dov Lior, Rabi Shalom Dov Wolpe dan Rabi Meir Mazuz.

Maka jelaslah mengapa akhirnya pasukan Israel sangat ganas dan keji serta brutal melakukan penjajahan di Palestina. Pihak-pihak berwenang (termasuk kaum 'agamawan') memberi kebebasan pada komandan Israel untuk menyerang penduduk sipil selama perang di Jalur Gaza yang menewaskan setidaknya 1.350 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. [adm/arrahmah]

Anggota Parlemen Israel Tuntut Pelarangan Buku "Taurat Raja"


Seorang warga Arab yang merupakan anggota parlemen Israel menyerukan adanya larangan terhadap sebuah buku yang ditulis oleh seorang rabi Yahudi yang mengizinkan untuk melakukan pembunuhan terhadap anak-anak non-Yahudi jika mereka menimbulkan ancaman bagi keamanan, menurut laporan media Selasa kemarin.

Buku setebal 320 halaman yang berjudul "Taurat Raja" adalah kumpulan maklumat keagamaan Yahudi, dan didukung oleh kelompok sayap kanan fanatik serta kelompok-kelompok ekstremis Yahudi, yang menyetuji adanya pembunuhan terhadap warga non-Yahudi, termasuk bayi dan anak-anak, jika mereka mengancam terhadap keamanan Israel.

Dr Jamal Zahalka, perwakilan Knesset dari partai nasionalis Arab Balad, mengajukan keberatan kepada Jaksa Agung dan meminta buku tersebut dilarang dan penulisnya, Rabi Yitzhak Shapira dituntut ke pengadilan, surat kabar Lebanon Assafir melaporkan pada hari Selasa kemarin.

Zahalka menyamakan petunjuk dalam buku tersebut dengan tindakan kejam Israel terhadap warga Palestina sembari menambahkan "satu-satunyanya perbedaan adalah bahwa Israel mencoba untuk membenarkan tindakan kejahatan mereka sedangkan penulis buku penulis berpendapat bahwa tidak perlu untuk memberikan penjelasan untuk membunuh orang-orang Arab."

Menurut Rabbi Shapira, masyarakat non-Yahudi yang melemahkan kedaulatan Yahudi, bahkan oleh sebuah pidato, harus dibunuh sekalipun mereka tidak secara langsung terlibat dalam situasi yang mengancam kedaulatan negara yahudi.

Banyak para rabi Yahudi terkemuka memuji buku tersebut dan merekomendasikan untuk diberikan kepada para siswa dan pengikut Yahudi, harian Israel Haaretz melaporkan pada Senin lalu. Buku ini berdasarkan pada kutipan dari alkitab yang kemudian Rabi Shapira menambahkan pendapatnya.

Penerbitan buku bertepatan dengan peringatan kematian Meir Kahane, seorang rabi ultra-nasionalis dan anggota Knesset yang mengkampanyekan pengusiran massal warga Palestina.

Buku itu juga dijual di sekolah-sekolah agama di pemukiman yahudi Yitzhar, dekat Nablus. [adm/eramuslim]

Mantan Penguasa Soviet Desak AS Mangkat Dari Afghanistan

Selasa, November 10


MOSKWA - Mantan pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev, telah mendesak Amerika Serikat untuk menarik semua pasukan militernya dari Afghanistan.

Gorbachev mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara pada Minggu (8/11) bahwa "penarikan mundur pasukan asing dari Afghanistan harus menjadi tujuan."

Pemimpin terakhir Uni Soviet ini pun menyarankan Presiden AS Barack Obama membatalkan pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan. "Saya berpikir bahwa yang dibutuhkan bukanlah pasukan tambahan."

Ia membuat pernyataan bersamaan dengan kisruhnya Washington dalam mempertimbangkan pengiriman sebanyak 40.000 pasukan tambahan ke Afghanistan.

Gorbachev, yang memerintah Uni Soviet dari tahun 1985 hingga bubar negara tersebut pada tahun 1991, mendesak AS untuk mengikuti model negaranya selama menduduki Afganistan. "Saya pikir pengalaman kami patut mendapat perhatian."

Banyak sejarawan mengatakan pendudukan Afganistan oleh Uni Soviet merupakan faktor utama di balik runtuhnya negara itu.

Pemenang Nobel Perdamaian tahun 1990 ini juga menyarankan AS untuk fokus pada jalur penyelesaian diplomatis (dialog) untuk mengakhiri penderitaan panjang rakyat Afghanistan. [adm/arrahmah]

Warga Bil'in Berhasil Robohkan Tembok Apartheid Israel


Puluhan warga Palestina di Bil'in berhasil meruntuhkan sisi tembok pemisah di dekat Bandara Qalandia, Yerusalem Utara. Aksi tersebut dilakukan warga Palestina bersamaan dengan peringatan 20 tahun diruntuhkan Tembok Berlin di Jerman.

Ini adalah kali kedua, selama satu pekan ini, warga Palestina berhasil membongkar sisi tembok yang juga disebut "tembok apartheid". Senin kemarin, ratusan aktivis pro-Palestina menggelar aksi massa di sisi tembok dekat Qalandia sambil melambai-lamabikan bendera Palestina dan meneriakan yel-yel "ke Yerusalem kami akan pergi, bersama jutaan syuhada." Yel-yel ini sangat terkenal di Palestina, karena sering dilontarkan mantan Presiden Palestina Yasser Arafat dalam setiap pidatonya.

Setelah puluhan warga Palestina berhasil membongkar sisi tembok di Qalandia, tentara-tentara Israel langsung dikerahkan ke lokasi itu dan menembakkan gas air mata pada para pengunjuk rasa. Aktivis dari Komite Popular Anti-Tembok Israel di kota Bil'in, Abdullah Abu Rahma mengatakan, pembongkaran sisi tembok itu baru langkah awal dari berbagai rencana aksi yang akan mereka lakukan selama beberapa hari mendatang.

"Aksi ini kami lakukan untuk menunjukkan keteguhan dan penolakan rakyat Palestina terhadap pembangunan tembok pembatas di atas tanah mereka," kata Abu Rahma.

Israel membangun tembok pemisah yang membelah wilayah Tepi Barat, antara kota Yerusalem dan Bethlehem sejak tahun 2002 dengan alasan demi keamanan Israel. Untuk keperluan pembangunan tembok itu, Israel merampas tanah-tanah milik rakyat Palestina serta memisahkan warga Palestina dengan tanah-tanah pertanian milik mereka. Dengan adanya tembok tersebut, rakyat Palestina di Tepi Barat seperti terpenjara di tanah airnya sendiri.

Tahun 2004, Pengadilan Internasional di Hague mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa tembok pembatas yang dibangun Israel itu ilegal dan harus dibongkar. Namun Israel tidak mengindahkan resolusi itu dan tetap meneruskan pembangunan tembok pembatas sepanjang 900 kilometer tersebut.

Para aktivis lokal maupun asing setiap Jumat melakukan aksi protes di desa Bil'in untuk menuntut dibongkarnya tembok tersebut. Aksi-aksi itu kadang direspon dengan kekerasan oleh tentara-tentara Zionis.

Bersamaan dengan peringatan runtuhnya Tembok Berlin di Jerman pada 9 November 1989, warga Bil'in juga mengeluarkan pernyataan sikap yang isinya menyerukan gerakan massa ke Yerusalem dan melakukan perlawanan seperti yang pernah dilakukan lewat gerakan Intifada tahun 1987.

"Kami menyerukan kepemimpinan nasional untuk bersatu dan memimpin gerakan massa yang terdiri dari seluruh faksi politik, organisasi massa dan rakyat Palestina mulai dari Tepi Barat sampai Galur Gaza. Gerakan massa ini merupakan strategi untuk memobilisasi dukungan internasional untuk mengakhiri ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina dibawah penjajahan Israel dan mendirikan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya," demikian isi pernyatan itu. [adm/eramuslim]