Sabtu, Oktober 17

Ja’far Umar Thalib Benarkan Dirinya Usul Pelarangan Buku Sayyid Qutb


Di saat banyak kaum Muslim dipersalahkan atas kasus terorisme, mantan Panglima Laskar Jihad Ja'far Umar Thalib justru mengusulkan pelarangan buku-buku Sayyid Quthb.

Sebelum ini, dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV swasta, Ja’far juga menyerukan agar dalam menangani kasus terorisme, pemerintah tidak saja mulai memberangus paham-paham radikal dan terorisme dengan cara represif, tapi juga pemerintah didesak untuk mengawasi, bahkan melarang peredaran buku-buku berideologi radikal, serta pengawasan terhadap halaqoh (pengajian kelompok kecil).

Menurut Djafar, merebaknya aksi teror ini disebabkan karena adanya pemahaman yang salah. Buku-buku yang dia maksud banyak melahirkan kesesatan.

Saat ditanya, apakah semua pembaca dan pemilik buku Das Capital dan Marxisme mesti menjadi komunis atau PKI dan buku-bukunya harus dilarang? Ia hanya menjawab, “Ya, tetapi banyak orang yang sudah teracuni dengan buku-buku Sayyid Quthb,“ ujarnya pada www.hidayatullah.com.

Sayyid Quthb merupakan pemikir gerakan al-Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Banyak bukunya menjadi inspirasi dakwah kaum Muslim di seluruh dunia. Di antaranya adalah buku, Fi Zhilal al-Qur’an yang telah diterbitkan berbagai penerbit di Indonesia.

Usulan pelarangan terhadap buku Sayyid Quthb ini memang bukan hal baru. Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam wawancara dengan sebuah majalah berita mingguan meminta aparat intelijen meneliti buku-buku karya cendekiawan Muslim Sayyid Quthb dan Hasan Al-Banna. Hal itu pula yang diusulkan oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono. Sementara Departemen Agama membentuk Tim Penanggulangan Terorisme (TPT) untuk mengkaji makna “jihad”.

Namun salah satu tokoh pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abu Ridho, Lc mengaku heran. “Buku-buku Sayyid Quthb sudah beredar sejak tahun 80-an. Namun sampai hari ini, tak ada ulama dunia mana pun keberatan, apalagi menganjurkan pelarangan. Apalagi mencaci-maki. Jika ada yang salah, pasti sejak dahulu ulama sudah melarangnya,” katanya.

Bahkan, menurutnya, sejak tahun 80-an buku-buku Sayyid Quthb bisa diperoleh secara bebas di Saudi Arabiyah. “Saat masih mahasiswa, saya bahkan mendapat hadiah buku-buku Sayyid Quthb dari lembaga resmi pemerintahan Saudi,” ujarnya. “Apakah saat itu, banyak ulama besar kita yang tak mengerti bahasa Arab?” tambahnya. [adm/hidayatullah]

Tidak ada komentar: