Jumat, Februari 26

Kepala Polisi Al-Jazair Tewas Ditembak di Kantornya


Kepala polisi nasional Aljazair ditembak mati pada hari Kamis kemarin (25/2) di markas kepolisian oleh seorang pejabat polisi lain yang bertindak seperti orang kegilaan, kata Kementerian Dalam Negeri.

"Penembakan terhadap Ali Tounsi ... berlangsung selama jam kerja, dalam sebuah insiden dimana seorang pejabat polisi menggunakan senjatanya dan menembak Kolonel Tounsi sehingga terluka parah," kata radio pemerintah mengutip pernyataan kementerian dalam negeri.

"Sebuah penyelidikan yudisial telah dibuka untuk menentukan dan menyelidiki peristiwa menyedihkan ini," kata pernyataan tersebut.

Tidak ada indikasi adanya hubungan antara pembunuhan Tounsi dengan kelompok penyerang seperti al-Qaidah yang secara berkala sering menargetkan serangan terhadap pemerintah Aljazair, yang menjadi pengekspor minyak dan gas.

Angkatan kepolisian yang dipimpin oleh Tounsi telah memainkan peranan penting dalam upaya untuk menyingkirkan perlawanan yang dilakukan oleh militan Islam.

Sebelumnya, sumber keamanan mengatakan kepada Reuters bahwa Tounsi yang menjadi kepala polisi nasional selama lebih dari satu dekade dan veteran perang kemerdekaan Aljazair dari Perancis pada era 1950-an dan 1960-an, ditembak di kantornya oleh seorang pejabat polisi senior tanpa alasan yang jelas.

"Orang ini (pejabat polisi yang menembak Tousi) seperti sedang stres, ia tiba-tiba mengeluarkan pistol dan menembak Tousi," kata sumber itu. "Polisi tersebut menembak Tousi dari jarak dekat."

Pernyataan Kementerian Dalam Negeri mengatakan bahwa setelah menembak kepala polisi, penyerang menembak dirinya sendiri dan sekarang dalam kondisi kritis di rumah sakit.

"Kematian Tounsi adalah kerugian besar tetapi tidak akan mempunyai dampak pada perang melawan terorisme," kata seorang sumber resmi yang dekat dengan masalah-masalah keamanan kepada Reuters.

"Perang melawan teror tidak dilakukan oleh satu orang tetapi oleh semua lembaga-lembaga yang ada di Aljazair." Polisi berbagi tanggung jawab untuk memerangi para pemberontak dengan aparat keamanan yang lain, seperti kelompok paramiliter polisi, dinas intelijen dan tentara. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: