Rabu, Februari 24

Omar El-Bashir Menyetujui Gencatan Senjata


Presiden Sudan Omar El-Bashir menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan salah satu kelompok pemberontak di Darfur, yaitu Gerakan Keadilan dan Persamaan (JEM). Kelompok pemberontak yang berada di Darfur (JEM), merupakan kelompok utama, yang selama ini melawan kekuasaan pemerintah pusat.

Perjanjian perdamaian dan pembagian kekuasaan itu di tandatangani di Qatar, dan ini langkah penting menuju kearah perdamaian, dan akan mendorong kelompok lainnya ikut menandatangani perjanjian.

Kelompok JEM mengatakan, sekarang para pengamat perdamaian akan memantau berlakunya gencatan senjata sejak tengah malam yang akan berlangsung pukul 21.00 GMT, waktu setempat. "Ini langkah penting", ucap Khalil Ibrahim, saat menandatangani perjanjian itu. "Jalan menuju perdamaian memerlukan kehati-hatian dan konsesi dari kedua belah pihak", tambahnya.

Sekjen PBB, Ban Ki-moon, memberikan komentar, terhadap perjanjian itu, "Sebuah tahapan penting, yang perdamaian di Darfur yang bersifat konprehensive", ucap Ban Ki-moon. Sekjen PBB itu mengharapkan agar perjanjian antara pemerintah Sudan dengan fihak pemberontak JEM itu, kiranya sepenuhnya dapat dilaksanakan dilapangan.

Perjanjian perdamaian di Darfur itu akan dilanjutkan dengan pembagian kekuasaan, dan langkah menuju ke arah perdamaian itu, sangat mungkin, mengingat kondisi di Darfur sudah sangat buruk, khususnya banyaknya yang menjadi korban perang, dan timbulnya kelaparan.

Perjanjian damai itu dimungkinkan dengan adanya perantaraan piah Chad, yang selama mendukung pemberontak JEM. Dengan perjanjian itu akan dilakukan langkah de-militerisasi. Dan menghentikan serangan militer ke Utara, yang menjadi pusat gerakan pemberontak.

Pemerintah Qatar yang menjadi tuan rumah pertemuan dalam perjanjian itu, tidak ikut menandatangani. Dan, Qatar akan menghimpun dana 1.5 milyar dolar, yang tujuannya untuk membangun kembali Darfur dan wilayah Utara yang porak poranda, akibat perang saudara selama puluhan tahun. Perang di Utara Sudan telah mengakibatkan lebih dari 300.00 pendudk sipil tewas, dan 2.5 juta kehilangan tempat tinggal. Kini, upaya-upaya terus dilakukan untuk mengakhiri perang. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: