Selasa, Maret 30

Aktivis HAM: Ledakan Bom Moskow Akibat Kebijakan Rusia di Kaukasus




Ledakan di kereta bawah tanah Moskow adalah hasil dari kejahatan Rusia di Kaukasus secara umum dan Chechnya pada khususnya, kata Yuli Rybakov, yang terkenal sebagai aktivis hak asasi manusia mantan deputi organisasi duma.

Metode yang digunakan oleh Putin dan Rusia telah membawa hasil yang memadai.

"Kami memiliki sebuah rezim yang sekarang 10 kali lebih buruk daripada apa yang kami miliki di awal tahun 90-an - kata Rybakov. Sebuah agresi, yang meningkat setiap hari dan setiap tahun, yang berasal dari Kaukasus sebagai respons terhadap tindakan pemerintah kami.

Pada awal kampanye ini, umat Islam sepenuhnya tidak melakukan tindakan yang agresif. Peranglah yang membuat mereka menjadi agresif. Dan tidak mengherankan: di Chechnya setiap waktu rakyat tewas dalam perang yang dilancarkan Rusia. Lalu mengapa kita harus terkejut bahwa kekerasan telah kembali ke kita? Ini adalah hasil dari kebijakan pemerintah kami di Kaukasus".

Kekerasan dan penyalahgunaan hak asasi manusia berlangsung terus di Chechnya", menurut sejumlah organisasi hak asasi manusia. Bahkan sejumlah pekerja bantuan dan aktivis hak asasi manusia telah diculik dan dibunuh.

Menurut Amnesti Internasional, "Pihak berwenang di Chechnya terus mengintimidasi dan menganiaya pembela hak asasi manusia dan orang-orang yang mencari keadilan bagi penyalahgunaan kekuasaan pemerintah pro Rusia disana. Beberapa bahkan telah dipaksa untuk meninggalkan Chenchya karena ancaman terhadap kehidupan mereka", laporan CNN dari Moskow.

Sementara itu, ledakan di stasiun metro Moskow memiliki dampak serius terhadap ritme kerja dari sistem transportasi yang ada di Moskow. Tambahan rute bus pun telah diatur, polisi lalu lintas membatasi masuk ke pusat kota untuk menghindari kemacetan lalu lintas, dan hal ini membuat sopir taksi menaikkan harga argo taksi mereka.

Seperti beberapa kantor berita Rusia menulis bahwa serangan terhadap kereta bawah tanah telah melumpuhkan sistem transportasi Moskow. Lingkaran transportasi ketiga harus berhenti dalam kemacetan lalu lintas.

Beberapa bagian pusat kota harus tertutup oleh macetnya mobil. Beberapa jalan-jalan ke stasiun metro Lubyanka telah diblokir. Pemandangan yang sama juga terjadi di sekitar Taman Kultury stasiun.

"Sementara itu, sopir taksi Moskow memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan tarif mereka", beberapa surat kabar Rusia dengan marah menuliskan hal tersebut. Orang-orang yang keluar dari kereta bawah tanah takut untuk turun ke dalam kereta bawah tanah dan lebih suka memanggil taksi. Kantor berita RIA melaporkan, sopir taksi Moskow menaikkan harga tarifnya hampir mencapai 3.000 rubel ($ 100) per penumpang untuk perjalanan pendek. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: