Jumat, Maret 5

Metode Unta, Cara Misionaris Murtadkan Muslim


Para ahli strategi garis depan penyebar injil sudah sepuluh tahun ini berdebat mengenai 'Camel Method' atau Metode Unta, yang digunakan untuk menarik umat Islam masuk ke dalam agama Kristen. Mereka menyebut metode itu sangat bermanfaat.

David Taylor (nama samaran), editor senior Global Mission Database dan pengarang Operation 10/40 Window, mengatakan bahwa metode tersebut sangat membuahkan hasil di seluruh dunia.

"Sayangnya sebagian orang (yang belum berpengalaman menghadapi Muslim) tidak memahaminya, dan salah dalam menyampaikannya," kata Taylor kepada The Christian Post Selasa.

Ia merujuk pada ayat dalam Bibel di mana Paul dan Barnabas mendebat kaum Parisi mengenai kaum yang bukan penganut agama mereka perlu disunat. Menurut Taylor, baik dalam kasus itu maupun Metode Unta, Roh Kudus "membimbing para misionaris di lapangan untuk menggunakan pendekatan tertentu, sehingga bisa mengurangi kesalahpahaman dengan mereka yang ingin dirangkul. Dan orang-orang ultra-konservatif di belakang sana ketakutan dan berupaya memperdebatkannya."

Metode Unta menggunakan cerita dalam Islam untuk memperkenalkan Yesus kepada Muslim. Ada cerita yang mengatakan bahwa setiap Muslim yang baik pasti mengetahui 99 nama Allah, tapi nama yang ke-100 hanya diungkapkan kepada unta.

Para misionaris yang menggunakan metode ini mengatakan bahwa nama ke-100 itu adalah Yesus, atau dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Isa. Muslim yang akan dimurtadkan kemudian diarahkan kepada ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa Isa itu suci, memiliki kemampuan untuk menghidupkan orang mati, dan mengetahui jalan menuju surga. Setelah itu, para misionaris akan mengaitkan Yesus dengan ritual pengorbanan pada Hari Raya Idul Adha, dan dengan rencana tuhan yang berkorban untuk umat manusia.

Kevin Greeson, seorang ahli strategi misionaris dari International Mission Board (IMB), berusaha mengembangkan Metode Unta ini setelah bertahun-tahun tidak berhasil memurtadkan umat Islam. IMB adalah lembaga misionaris di bawah Southern Baptist Convention, sekte Kristen Protestan yang paling besar di Amerika Serikat. Menurut Greeson, metodenya itu memperlakukan Muslim dengan hormat, sambil mengkonfrontasikan ayat-ayat suci Al-Quran sebagai jembatan untuk menuju Kabar Gembira yang dijanjikan dalam Bibel.

Metode tersebut terbukti sangat ampuh untuk menghadapi Muslim dalam dialog mengenai Yesus.

Namun baru-baru ini Presiden Liberty Theological Seminary, Dr. Ergun Caner, mengecamnya. Caner yang dulu adalah pemeluk Islam, menyebut metode itu sesat. Dalam wawancaranya dengan SBC Today ia mengatakan bahwa tuhan dalam Bibel dan Allah dalam Al-Quran tidak memiliki persamaan. Ia secara tegas mengatakan bahwa metode itu ,"benar-benar, penipuan yang mendasar."

"Anda tidak boleh menjalankan misi evangelis berdasarkan penipuan," kata Caner. "Saya tidak dapat membayangkan dusta semacam itu. Dan seperti itulah saya menyebutnya (dusta)."

Namun David Taylor membela Metode Unta. Ia mengatakan bahwa metode itu dibangun berdasarkan atas apa yang telah diyakini Islam mengenai kebenaran Bibel, dan hal itu digunakan sebagai jembatan untuk menuju Bibel.

"Dalam misi kami menggarap Muslim di Filipina, kami melihat mereka yang menggunakan pendekatan seperti Metode Unta berhasil mendapat pengikut dan terus bertambah hingga hari ini," kata Taylor. "Mereka yang tidak menggunakannya, yang melakukan pendekatan antagonistik terhadap Quran dan Islam, sedikit atau bahkan tidak menghasilkan."

Ia menambahkan, "Secara umum bisa dikatakan, cara yang paling efektif untuk merengkuh Muslim adalah terus melakukan dialog dan biarkan secara perlahan Roh Kudus menyingkap kebenaran."

David Taylor adalah putra dari pasangan misionaris yang menjalankan misinya di Filipina. Ia tumbuh dewasa sambil mendengarkan strategi-strategi yang dipakai para misionaris untuk menggaet orang agar mau memeluk Kristen. [adm/hidayatullah]

Tidak ada komentar: