Senin, Maret 1

Pembantai Muslim Bosnia Mengaku Tidak Bersalah


Radovan Karadzic, mantan pemimpin Serbia Bosnia, telah memulai kembali persidangan berisi pembelaannya dari pengadilan dengan tuduhan melakukan genosida di Den Haag Belanda.

Karadzic (64 tahun) menghadapi dua tuntutan melakukan genosida dan sembilan tuntutan lain diantaranya tuduhan atas pembunuhan, pembasmian, penyiksaan, pendeportasian paksa dan menahan 200 sandera PBB.

Dia menyangkal atas segala tuduhan yang didakwakan padanya dan menyatakan dirinya tidak bersalah namun menolak untuk memasukkan permohonan penyangkalannya tersebut secara resmi.

Dia menghadapi kemungkinan hukuman penjara seumur hidup jika dinyatakan bersalah, dalam salah satu kasus terbesar terakhir yang dibawa ke pengadilan kejahatan perang PBB untuk kasus negara bekas Yugoslavia, Bosnia.

Jaksa mengatakan Karadzic merancang kampanye untuk menghancurkan masyarakat Muslim dan komunitas Kroasia di Bosnia timur dalam rangka menciptakan sebuah negara yang murni beretnis Serbia.

Kampanye tersebut termasuk 44-bulan pengepungan terhadap ibukota Sarajevo dan melakukan penyiksaan serta pembunuhan ratusan tahanan di kamp-kamp tahanan yang tidak manusiawi.

Puncak kampanyenya itu, Karadzic melakukan pembantaian sekitar 8.000 pria muslim dalam satu minggu pada bulan Juni 1995 di kantong Srebrenica - yang menjadikan peristiwa tersebut sebagai pembantaian terburuk di Eropa sejak perang dunia kedua.

"Karadzic memanfaatkan kekuatan-kekuatan nasionalisme, kebencian serta ketakutan etnis Serbia agar segera memisahkan diri dari etnis Bosnia," kata jaksa Alan Tieger dalam sebuah pernyataannya pada pembukaan sidang pengadilan kejahatan perang Karadzic. Karadzic adalah tokoh paling penting yang dibawa ke pengadilan sejak Slobodan Milosevic, mantan presiden Yugoslavia, yang meninggal karena serangan jantung pada tahun 2006 sebelum kasus ini ditutup. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: