Selasa, Maret 2

Sesudah Jatuhnya Marjah?


Wakil Presiden Afghanistan Abdul Karim Khalili mengunjungi Marjah, dan melihat kondisi kota itu paska jatuhnya kota yang menjadi basis Taliban, di Propinsi Helmand, Selatan Afghanistan. Saat Khalili mengunjungi situasi dalam keadaan stabil. Khalili berkunjung kota sudah dikuasai penjajah AS dan Sekutunya, nampak tenang.

Khalili yang didampingi Panglima Nato Jendral Mc Chrystal, berkeliling kota Marjah, kunjungan itu, tak lama sesudah bendera Afghanistan, berkibar dan menggantikan bendera putih, milik Taliban. Ketika berkunjung ke tempat itu, tak ada aksi unjuk rasa, dan situasi tenang, karena ketatnnya penjagaan yang dilakukan marinir AS.

Marjah, dianggap sangat lah istimewa, karena itu, AS dan Sekutunya harus mengerahkan sepertiga pasukannya, yang ada di Afghanistan. Tak kurang 35.000 pasukan AS, yang terdiri pasukan darat dan marinir masuk kota Marjah. Pasukan AS itu didukung dengan kekuatan darat pasukan Afghanistan,yang jumlah tak kurang 5.000 personil, yang mereka menajadi tameng.

Operasi 'Mushtarak' (besama) itu, berlansung sangat cepat, dan nampaknya Taliban tidak memberikan perlawanan, dan akan melakukan perang gerilya, serta jangka panjang. Mereka memilih langkah perang dengan cara 'hit and run', karena mereka mengahadapi pasukan sekutu, yang jumlahnya jauh lebih besar, yang didukung persenjataan yang lengkap dan mutakhir.

Khalili yang mengunjungi Marjah bersama Mc Chrystal itu, mengunjungi orang-orang sipil yang menjadi korban kebiadaban pasukan AS, yang menggunakan rudal darat ke darat, yang banyak menimbulkan korban sipil. Khalili dan Mc Chrystal yang didampingi Mark Sedwill, yang mengurusi korban perang sipil itu, ingin mendapatkan pujian dari rakyat di Marjah, mereka mengunjungi tempat-tempat penduduk, dan memberikan bantuan kepada mereka. Ini adalah taktik penjajah, sesudah menghancurkan kemudian memberikan bantuan, dan ingin mendapat simmpati kepada rakyat.

Tapi, dapatkah pemerintah pusat di Kabul, memberikan perhatian yang serius kepada mereka? "Kami akan terus menciptakan perdamaian dan stabilitas", ucap Khalili di tengah-tengah kerumunan penduduk di kota itu. "Ini tidak bisa cepat selesai, dan tentara AS tidak akan segera pergi. Mereka akan tetap tinggal disini, sampai situasinya stabil dan kami akan menjaga anda", tambah Khalili.

Adakah rakyat di Marjah mempercayai omongan Khalili? Tak ada pertanyaan yang keluar dari mulut penduduk yang mengelilingi Khalili itu. Mereka terdiam. Mungkin kondisi bisa berubah menjadi buruk. Jendral Mc Chrystal yang disertai seorang komandan yang tidak di ketahui identitasnya itu, terus melihat perkembangan di kota Marjah.

Khalili dan Mc Chrystal terus berbicara dengan keluarga para korban, yang banyak diantara yang tewas akibat operasi militer yang dilakukan pasukan Nato. Mc Chrystal sendiri mengharapkan pertemuan itu menjadi awal yang baik, dan tidak lagi rakyat Marjah mendukung Taliban. Tapi, tak mungkin mereka dapat melupakan tindakan militer AS dan Sekutunya yang banyak membunuh sanak familiy mereka, yang jumlahnya ribuan orang, yang sampai hari ini korban terus berjatuhan.

Wakil Presiden Abdul Karim Khalili itu ingin membangun kepercayaan dengan rakyat di wilayah itu. Apakah mungkin kepercayaan bisa tumbuh dengan pemimpin dan pemerintahan yang menjadi boneka penjajah? Sementara para boneka penjajah itu hidup dengan gelimang kemewahan, dan mereka terus merampok dan korupsi, yang menjadikan mereka penuh dengan kenikmatan, sementara rakyatnya terus menjadi korban pembantaian pasukan penjajah, yang sekarang bercokol di wilayah itu. Marjah memang kini nampak tenang dan stabil tidak ada perlawanan, yang berarti dari Taliban, tapi tidak berarti segalanya telah berakhir. Perang masih belum usai. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: