Selasa, April 13

Bakiyev: "Ini Bukan Sebuah Revolusi, Ini Perebutan Kekuasaan"




Presiden Kyrgyzstan yang dilengserkan, Kurmanbek Bakiyev pada Senin kemarin (12/4) untuk pertama kalinya tampil di depan publik sejak ia digulingkan dari kekuasaannya dalam sebuah kudeta rakyat.

Ddi hadapan ribuan pendukungnya ia berpidato dengan berapi-api mengecam lawan-lawan politiknyanya dan kembali menegaskan dirinya menolak untuk mundur dari kursi kepresidenan.

Bakiyev, yang melarikan diri dari ibukota Bishkek pada Rabu minggu lalu di tengah protes rakyat terhadap pemerintahannya telah menewaskan sedikitnya 81 orang.

Baliyev berpidato ditengah kerumunan ribuan pendukungnya di desa kelahirannya di Teyit Kyrgyzstan selatan.

Dia disambut di dekat rumah keluarganya dengan kerumunan pendukungnya bersorak-sorai menyebut-nyebut namanya, seorang koresponden AFP melaporkan.

Berbicara dari tangga kantor walikota setempat, Bakiyev bersikeras bahwa ia masih presiden yang sah dari bekas negara Soviet dan menuduh pemerintah sementara sebagai "gangster asli."

"Saya punya beberapa alasan untuk bersembunyi. Seperti yang Anda tahu, kekuasaan saya dirampas secara paksa. Hal itu pertama kali di mulai di (kota barat laut) Talas dan semua kesalahan diletakkan di pundak saya," katanya kepada para pendukungnya yang bersorak-sorak meneriakkan dukungan kepadanya.

"Saya adalah presiden, dan tidak ada yang berhak atau berwenang untuk membuat saya meninggalkan posisi saya. Ini bukan sebuah revolusi, ini adalah perebutan kekuasaan." Bakiyev juga mengulangi seruannya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengirim kontingen pasukan penjaga perdamaian untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut di negara miskin di Asia Tengah tersebut. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: