Sabtu, April 10

“Ciptakan Konflik, Israel Ingin Jajah Sudan”




KHARTOUM 
– Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir mengatakan bahwa tujuan Zionis Israel di kawasan Afrika dan Timur Tengah adalah mengendalilkan, mendominasi dan memperlemah negara-negara Arab. Mereka juga ingi mengadu domba dan menciptakan kekacauan dalam wujud masalah internal atau eksternal untuk tetap menjaga keberadaannya di Sudan.

Hal tersebut diungkapkan Bashir dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Libanon, AlJadid. Ia menambahkan, “Israel dan antek-anteknya ingin memperlemah Sudan dan melakukan penjajahan di tengah peperangan dan konflik, karena mereka tahu benar bahwa negara kami berukuran besar dan kaya sumber daya alam. Mereka menimbulkan konflik internal. Setelah pemerintahan Sudan mampu mencapai perdamaian di selatan, mereka membuka kembali isu Darfur dan isu-isu lain di sebelah timur Sudan dan mereka juga menghasut negara-negara tetangga.”

Presiden Sudan tersebut menambahkan, “Upaya (Israel) tersebut dilakukan untuk menyerang ekonomi Sudan karena kami adalah negara yang kaya akan sumber daya, perusahaan-perusahaan internasional yang serakah ingin menguras sumber daya tersebut, mereka memicu ancaman intenal dan eksternal Sudan agar Sudan akhirnya tunduk di bawah kekuasaan pasukan asing di negaranya sendiri.”

Dia menekankan bahwa Khartoum menghadapi ancaman-ancaman tersebut karena berpegang teguh pada prinsip, hak-hak, dan keyakinan kepemimpinan Sudan. Ia menghimbau rakyat Sudan untuk bekerja sama dan mengklarifikasi seluruh permasalahan secara terbuka kepadanya, ia juga berniat menjelaskan posisi yang sebenarnya, siapa saja kawan sejati negara-negara Afrika, Muslim, Asia dan Amerika Selatan, jika Barat memutuskan untuk melakukan blokade ekonomi, politik dan diplomatik.

Bashir mengatakan: “Jika bersatu, negara-negara Arab akan membentuk kekuatan yang lebih perkasa dan lebih besar jika dibandingkan dengan kombinasi negara manapun di muka bumi. Negara-negara Arab memiliki elemen yang tidak dipunyai kelompok lain di dunia, (negara-negara Arab) dipersatukan oleh bahasa yang sama, sejarah yang sama, demikian halnya dengan risiko, ancaman, dan kepentingan bersama.”

Omar al-Bashir menginginkan dukungan Arab terhadap Sudan dan membelanya dalam forum internasional, serta menjelaskan bahwa meski ada pembatasan dari institusi-institusi keuangan internasional, institusi keuangan Arab tetap memberikan dukungan dalam berbagai proyek perkembangan, Arab juga menolak keputusan Pengadilan Kriminal Internasional terhadap Bashir.

Mengenai pemilihan umum Sudan, Bashir mengatakan: “Kesepakatan damai yang ditandatangani pada Januari 2005 menyebutkan bahwa pemilihan umum akan dihelat pada tahun keempat periode transisi, Sudan telah memulai persiapan untuk pemilihan, regulasi pemilihan juga telah disetujui dan semua kubu politik juga sepakat. Berdasarkan peraturan tersebut, dibentuk lembaga independen yang diwakili oleh masing-masing kekuatan politik dan menetapkan agenda yang jelas untuk mencapai tahapan final pemilihan.”

Dia menambahkan, “Upaya untuk menunda pemilihan dimulai dengan permulaan kampanye dari berbagai kekuatan politik, meski mereka tahu jadwal berlangsungnya pemilihan sejak tahun 2005. Dalam hal ini, saya merasa bahwa mereka tidak memiliki aturan umum, yang berujung pada penyerangan UNHCR dan klaim penundaan pemilu serta menegaskan kemungkinan menggelar pemilihan di hadapan konstituen di Darfur.” Al-Bashir mengatakan, klaim penundaan tersebut diketahui komisi pemilihan, yang memberikan respons jelas dan berimbang, memutuskan untuk menambah jumlah kursi untuk wilayah selatan di dewan nasional di atas 25 persen, menjamin bahwa perubahan konstitusi hanya dapat disetujui oleh 75 persen anggota dewan. [adm/suaramedia]

Tidak ada komentar: