Kamis, April 22

Mengapa Banyak Terjadi Poligami di Gaza?


Jika Anda ke Gaza, jangan pernah terkejut mendengar kalimat ini, "Saya akan menikah dengan seorang pria yang sudah menikah," dari seorang gadis yang cantik dan masih muda.

Mungkin Anda akan bertanya, “Bagaimana bisa? Anda adalah seorang gadis muda yang cantik?"

"Tidak masalah jika saya istri kedua atau ketiga," itulah mungkin yang akan dikatakannya kemudian. "Yang penting bagi saya adalah hidup dengan orang yang bisa memberikan saya segala sesuatu yang saya minta."

Begitulah gadis-gadis muda di Gaza. Mungkin timbul sebuah pertanyaan, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah kemiskinan dan kemelaratan yang diciptakan oleh Israel di Gaza sangat buruk sehingga gadis-gadis cerdas dan muda itu bersedia menjadi istri kedua (atau mungkin istri ketiga) hanya untuk memastikan stabilitas keuangan dan kebutuhan sehari-hari?

Hamas, yang membuka sebuah majelis khusus pernikahan telah membuka pintu untuk warga Gaza yang sudah ingin pernikahan. Hanya di Gaza, pernikahan yang halal dan syari dimudahkan dan tidak pernah berbelit-belit dengan segala catatan sipil yang mungkin tak perlu, dan prosedural yang mahal dan sulit.

Menjadi istri calon syuhada atau menikahi janda syuhada

Om Alabed, seorang pegawai kota, mempunyai pandangan lain. Menurutnya, ada hal lain yang melatarbelakangi poligami di Gaza. Ketika seorang lelaki beristri meninggal karena kekejaman tentara Israel, keluarganya tak akan pernah ditelantarkan. “Masyarakat Gaza akan terdorong untuk menikahi janda para syuhada."

Di Gaza, Hamas membiayai pernikahan warganya. Setiap pasangan yang baru menikah menerima bantuan tunai sebesar $ 2800 (sekitar Rp. 3 juta), hadiah dan dibangunkan rumah untuk mereka.

Ahmad Abdul Karim Saef, 44, memiliki dua istri dan 7 anak-anak. Dia mengatakan, "Saya berpikir untuk menikahi lagi, tentu setelah biayanya cukup, dan saya pasti meminta izin kepada istri saya..."

Abir, 28, telah menikah dengan seorang pria yang sudah menikah selama tiga bulan. "Saya tidak suka dengan kenyataan bahwa saya berbagi suami saya dengan perempuan yang lain, tapi semuanya di sini berjalan sangat sulit."

Alasan agama

Syaikh Mohammad Najm, profesor hukum Islam di Universitas Al-Azhar, berkata, "tingginya jumlah syuhada mengakibatkan banyak jumlah janda pula, begitu pula dengan gadis-gadis yang belum menikah."

Dia menambahkan bahwa praktik poligami di Gaza ada dasar hukumnya dalam Islam. Al-Quran mengatakan seorang pria bisa menikahi empat wanita, jika ia dapat memperlakukan mereka semua dengan adil. Di Gaza, poligami adalah jalan untuk menjaga para janda para syuhada dalam perang yang telah berjuang selama bertahun-tahun. [adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: