Selasa, April 6

PM Inggris Benarkan “Serangan” ke Iraq




Perdana Menteri Gordon Brown mengatakan di depan Komisi Penyelidikan Iraq belum lama ini. Dia menegaskan tetap diberitahu tentang penyerangan tersebut oleh pendahulunya Tony Blair.

Brown meyakini bahwa berdasarkan penjelasan intelijennya sendiri, Iraq adalah sebuah ancaman yang "harus ditangani".

Masalah inti baginya adalah Iraq melanggar resolusi PBB dan "negara jahat" tidak bisa dibiarkan melanggar hukum internasional.

Jika dunia tidak bisa bertindak bersama dalam kaitannya dengan Iraq, Brown mengkhawatirkan keteraturan baru dunia yang berusaha dibangun akan terancam.

Brown yang saat itu menjadi Menteri Keuangan memberikan kesaksian beberapa minggu sebelum pemilihan umum Inggris yang diperkirakan akan dilaksanakan permulaan bulan Mei.

Jalur Diplomatik

Brown memulai keterangan di penyelidikan dengan menyatakan penghormatan kepada pengorbanan tentara Inggris.

"Tidak seorang pun ingin berperang, tidak seorang pun ingin menyaksikan tewasnya orang yang tidak bersalah, tidak seorang pun menginginkan pasukannya menghadapi resiko."

"Tidak seorang pun menginginkan mengambil keputusan ini, kecuali karena keadaan yang sangat buruk di mana kami memastikan kami melakukan hal yang benar."

"Saya pikir ini adalah keputusan yang benar dan dibuat untuk alasan benar."

Tetapi Brown mengatakan, ada pelajaran yang dapat dicerna dalam hal pengambilan keputusan, kerja sama internasional, dan cara menciptakan perdamaian yang adil.

Saat menjelaskan alasan perang di depan umum untuk pertamakalinya, Brown mengatakan, “teroris” dan "negara jahat" adalah dua resiko dunia pasca Perang Dingin yang harus diatasi.

Dia mengatakan bertemu badan intelijen beberapa kali, pada tahun 2002 dan permulaan 2003.

"Saya diberikan informasi oleh badan intelijen yang membuat saya percaya bahwa Iraq adalah sebuah ancaman yang harus ditangani lewat tindakan masyarakat internasional."

Tetapi dia menambahkan bahwa yang diinginkan adalah keberhasilan jalur diplomatik.

"Sampai saat terakhir, sampai akhir minggu terakhir, saya pikir sebagian besar dari kami berharap jalur diplomatik akan berhasil."

Biaya bukan masalah

Brown mengatakan, dia memastikan kepada Blair pada musim panas 2002 bahwa opsi aksi militer tidak akan dikesampingkan karena alasan biaya.

"Saya segera mengatakannya kepada Perdana Menteri... tidak ada alasan keterbatasan biaya yang menghambat kita melakukan hal terbaik bagi militer," katanya kepada penyelidik.

Dia juga mengatakan, Kabinet mendapat informasi yang diperlukan tentang usaha jalan keluar diplomatik untuk mencegah perang.

Pembangunan pascaperang juga dibicarakan Kabinet, termasuk melibatkan badan internasional seperti IMF.

"Saya berharap dapat lebih dimungkinkan menindaklanjutinya secara lebih menyeluruh beberapa hari setelah perang berlangsung," tambah Brown.

Saat ditanyakan apakah dirinya mengetahui apa yang dikatakan Blair kepada Presiden Amerika George Bush dalam pertemuan pribadi di peternakan Presiden di Texas pada tahun 2002, di mana beberapa saksi mengisyaratkan Blair memastikan keterlibatan Inggris, Brown mengatakan: "Saya tidak mengetahui pembicaraan secara pasti dan Anda juga tidak mengharapkan saya tahu itu."

Dia mengatakan memiliki "semua informasi yang diperlukan" untuk mengambil keputusan tentang kemungkinan pembiayaan perang dan ikut serta dalam rapat kabinet.

"Peran saya dalam hal ini adalah tidak ikut campur tangan dalam perundingan diplomatik yang sangat penting," tambahnya.

Dia mengatakan struktur pengambilan keputusan lapisan teratas pemerintah Inggris menjelang perang terlalu tidak resmi, dan dirinya serta Tony Blair sudah memperbaiki hal ini.

"Kami belajar dari ketidakresmian prosedur sebelumnya," kata Brown, sambil menambahkan struktur tersebut akan semakin diperketat jika badan penyelidik mengusulkannya.

Komisi Perang Iraq dibentuk untuk menyelidiki peristiwa yang terjadi dari tahun 2001 sampai 2009, termasuk tentang keputusan berperang, kesiapan pasukan, berjalannya perang, dan rencana setelah perang.

Seratus tujuh puluh sembilan tentara Inggris tewas di Iraq dari tahun 2003 sampai 2009.

Sementara puluhan ribu warga sipil Iraq tewas dalam periode tersebut. [adm/hidayatullah]

Tidak ada komentar: