Rabu, Mei 19

Bom Mobil Hantam Konvoi NATO di Kabul, 18 Orang Tewas



Seorang pria dilaporkan telah meledakkan mobil bermuatan bom di dekat konvoi NATO di Kabul pada hari Selasa kemarin, menewaskan sekitar 18 orang, termasuk lima tentara Amerika, satu prajurit Kanada dan 12 penduduk sipil. Peristiwa tersebut dianggap sebagai serangan yang paling mematikan di wilayah ibukota dalam setahun akhir ini.

Taliban, yang memimpin perlawanan terhadap pemerintah Afghanistan dan pasukan asing sembilan tahun ini, mengaku bertanggung jawab atas aksi pengeboman tersebut.


Mereka memang terus mengobarkan perlawanan yang semakin hari semakin mematikan, sedangkan serangan tersebut terus meningkat selama 12 bulan terakhir di Kabul, ibukota Afghanistan yang menerapkan keamanan serba ketat.

Penyerang tersebut melaksanakan aksinya pada jam sibuk sehingga membuat kekacauan di jalan-jalan di sekitar lokasi kejadian. Sementara lokasi kejadian sangat dekat dengan gedung parlemen dan rumah sakit yang dikelola oleh pihak asing.

Juru bicara kementerian dalam negeri, Zemarai Bashary mengatakan dalam peristiwa tersebut, 12 warga sipil dan asing dinyatakan tewas dan 47 lainnya mengalami luka-luka.

ISAF (International Security Assistance Force), pihak yang selama ini bertugas sebagai partner NATO di Afganistan membenarkan peristiwa tersebut. Mereka juga membenarkan jumlah korban yang jatuh dan detail identitas mereka.

Presiden Hamid Karzai dalam sebuah kesempatan mengutuk tindakan tersebut. "Presiden menyebut serangan tersebut sebagai serangan yang tidak manusiawi, bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, tindakan terorisme yang brutal dan hanya bertujuan jahat." kata staf kantor kepresidenan menjelaskan.


Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen juga mengutuk serangan tersebut, tetapi ia mengatakan pasukan aliansi tetap berkomitmen tehadap misi melindungi rakyat Afghanistan dan memperkuat kemampuan Afghanistan untuk melawan terorisme.

Setidaknya 208 tentara NATO, 130 diantaranya dari Amerika Serikat telah tewas dalam perang tahun ini. Fakta tersebut menjadi sejarah kelam dalam invasi yang dipimpin Amerika sejak tahun 2001. [adm/musl

Tidak ada komentar: