Selasa, Juni 22

Tidak Ada Kemenangan di Orakzai Melainkan Keributan




PESHAWAR - Pengamat militer mengatakan deklarasi kemenangan berdasarkan kesalahan penghitungan, sedang para kepala suku mengatakan Taliban masih menguasai daerah pegunungan dan sewaktu-waktu bisa kembali menyerang. Ini merupakan kisah klasik dimana militer boneka Pakistan mengumumkan kemenangan memerangi Taliban di salah satu basisnya, deklarasi tersebut merupakan kepalsuan, perang di Orakzai hanya menyisakan tangis.

Mereka mengumumkan hal tersebut tanpa mempedulikan moral penduduk setempat yang harus merasakan penderitaan selama bertahun-tahun akibat operasi militer brutal yang mereklancarkan.

"Pengumuman tersebut terlihat baik untuk publik Pakistan. Publik akan berpikir bahwa semuanya telah berakhir, khususnya di Orakai. Jadi otoritas ingin memberikan 'keringanan' kepada masyarakat," ujar pensiunan Jenderal Talat Masood, pengamat militer dan keamanan.

"Itu adalah untuk konsumsi domestik. Namun sayangnya, hal tersebut bukanlah fakta sebenarnya dan kredibilitas militer sekarang tengah dipertanyakan."

Orakzai merupakan salah satu basis kekuatan Tehrik-e-Taliban Pakistan yang melakukan serangan dari wilayah tersebut menargetkan tentara asing di Afghanistan.Tentara keamanan pada bulan lalu mengklaim telah mengambil alih basis Taliban di Djabori, 60 Km dari kota utama Orakzai, Kalaya.

Setelah itu, pemimpin militer, Jenderal ashfaq Kayani terbang ke Orakzai dan mendeklarasikan kemenangan di sana, dia mengklaim seluruh anggota Taliban telah berhasil diusir dari wilayah tersebut.

Namun baru-baru ini dilaporkan meletus pertempuran antara mujahidin Taliban dengan tentara boneka Pakistan.

"Situasi tengah genting saat ini di Orakzai. Taliban masih mengontrol wilayah pegunungan penting dan mereka bisa kembali kapanpun untuk melakukan serangan," ujar salah seorang kepala suku, Lal Jan.

Pada 3 Juni lalu, puluhan mujahid Taliban menyerang pos pemerinkasaan di wilayah tersbeut dan membunuh 6 tentara boneka. Otoritas boneka Pakistan mengklaim, dalam serangan tersebut 30 "militan" berhasil dibunuh.

Sejak hari itu, setiap harinya terdapat serangan menargetkan tentara pemerintah dan seperti biasa petinggi militer selalu mengklaim bahwa mereka berhasil membunuh anggota Taliban.

Pengamat mengatakan bahwa serangan-serangan besar masih terus dilakukan dan menunjukkan bahwa "militan" masih beroperasi dan memiliki kekuatan besar di wilayah tersebut.

"Operasi militer di Orakzai belum selesai," ujar Rahimullah Yusufzai, editor sebuah harian lokal dan pengamat "terorisme". "Aku pikir militer terlalu tergesa-gesa mengumumkan kemenangannya."

Penduduk lokal mengatakan bahwa Taliban masih mengontrol sebagian besar wilayah di Orakzai. [adm/arrahmah]

Tidak ada komentar: