Senin, Oktober 11

Ketakutan AS dan Eropa adalah Kemenangan Al-Qaida



Pemerintah AS dianggap terlalu berlebihan mengeluarkan peringatan bahaya terhadap kemungkinan serangan Al-Qaida ke sejumlah obyek wisata di Eropa. Para pakar intelijen menilai sikap AS itu justru akan membuat kelompok ekstrimis di "atas angin", mereka merasa menang karena telah membuat AS dan Eropa ketakutan.

AS sempat mengeluarkan "travel warning" bagi warganya yang akan pergi ke Eropa menyusul pemberitaan bahwa kelompok Al-Qaida berencana melakukan serangan ke sejumlah kota di Eropa. Terorisme, menurut para pakar intelijen dan keamanan, memang ancaman yang nyata dan tidak bisa diremehkan. Tapi "travel warning" yang dikeluarkan pemerintah AS memicu munculnya pemberitaan yang menakutkan di media cetak dan televisi di Eropa.

"Semua publisitas tentang 'travel warning' pemerintahan AS ibarat makanan dari surga buat Al-Qaida," kata mantan kepala keamanan informasi di badan intelijen Perancis, DGSE Alan Chouet. Ia mengatakan, informasi tentang rencana serangan Al-Qaida ke sejumlah kota di Eropa diduga didapat dari seorang warga Jerman keturunan Afghanistan yang ditahan di Bagram--basis militer AS di Afghanistan.

"Al-Qaida bahkan tidak perlu melakukan apapun, kelompok itu hanya butuh seseorang yang ditawan di suatu tempat untuk menciptakan cerita soal rencana serangan tersebut. Anda tidak bisa memverifikasi apa yang diungkapkan tawanan itu, dan jika ada seseorang yang meletakkan granat di tong sampah di suatu tempat di Eropa, tawanan itu akan dengan gampangnya mengatakan 'betul kan, saya sudah memperingatkan Anda'," tukas Chouet.

Analis keamanan lainnya, Richard Barret yang mengetuai tim PBB pemantau aktivitas Al-Qaida dan Taliban juga mempertanyakan apakah sumber-sumber informasi itu bisa dipercaya. "Buat Al-Qaida, publisitas sangat efektif untuk menyebarluaskan informasi rencana serangan itu. Mereka akan mendapatkan perhatian dari seluruh dunia, dan itulah yang mereka inginkan. Bisnis mereka meneror, bukan membunuh. Al-Qaida tidak bodoh, mereka bisa mendapatkan banyak hal tanpa harus mengorbankan apapun," papar Barret yang pernah bekerja di divisi anti-teror badan intelijen Inggris MI6.

Barret dan Chouet mengingatkan bahwa aparat pemerintahan harus waspada terhadap berbagai bentuk manipulasi jika berurusan dengan kelompok teror. Jaringan ekstrimis misalnya, karena tahu Barat memata-matai dan menyadap telepon mereka, kelompok itu akan dengan sengaja membuat pengarahan atau informasi palsu.

Kedua pakar intelijen itu juga mengatakan para politisi di Barat kerap memanfaatkan ketakutan yang dirasakan masyarakat untuk kepentingan pemilu atau ambisi politiknya. "Manuver itu dilakukan sejumlah politisi neo-konservatif di AS yang menuduh Presiden Barack Obama lemah dalam menghadapi terorisme yang mengancam AS," ujar Chouet.

Direktur Riset Akademi Pertahanan Nasional Swedia, Magnus Ranstorp menambahkan, pemerintahan Barat harus hati-hati untuk tidak mempolitisasi informasi terkait ancaman terorisme. Dikeluarkannya peringatan semacam "travel warning" harus merupakan upaya paling akhir yang dilakukan. "Jika ternyata tidak terjadi apapun, pemerintah yang sudah mengeluarkan 'peringatan khusu' haru memberikan penjelasan pada rakyatnya tentang apa sebenarnya yang terjadi," kata Ranstorp. "Tidak bagus juga kalau tanda bahaya terlalu sering dinyalakan," sambungnya.[adm/eramuslim]

Tidak ada komentar: