Jumat, Oktober 8

Tony Blair: ‘Ekstrimis Islam’ Ungguli Barat




NEW YORK  - Demokrasi Barat telah diungguli dan dikalahkan oleh 'ekstremisme Islam', klaim mantan perdana menteri Inggris dalam pidatonya di New York. Pada saat yang sama, ia pun memperingatkan bahwa ancaman teror terhadap Eropa yang digembar-gemborkan baru-baru ini, lansir Telegraph pada Kamis (7/10/2010).

Blair menyatakan bahwa 'narasi' yang berisi umat Islam berada di bawah serangan dari Amerika Serikat dan sekutunya untuk mendukung Israel, seolah menjadi legitimasi (bagi 'ekstrimis') dalam mengambil tindakan, dibantu oleh sejumlah "situs dan blog".

"Para praktisi 'ekstremisme' berjumlah sangat sedikit. Sedangkan para pengikut 'narasi' tersebut jauh lebih luas serta telah menjadi bagian dari pemikiran mainstream," kata Blair pada Washington Institute for Near East Policy.

"Ini adalah 'narasi' yang saat ini menjadi perbincangan utama dalam sejumlah situs, blog, dan organisasi."

Blair mengatakan mustahil orang-orang terkejut melihat betapa kuatnya kelompok-kelompok 'ekstremis' Islam, baik dari jumlah dana yang diterima dan indoktrinasi yang sudah sangat menyebar.

"Ukurlah, kurangnya serangan untuk menghadang itu semua selama beberapa tahun ini, atas nama hidup berdampingan secara damai," katanya.

"Kita telah diungguli."

Menurut Blair, kecenderungan untuk "bersimpati" pada 'ekstremisme' tidak hanya berbahaya tetapi juga melemahkan bagi umat Islam moderat, karena membuat orang membenci mereka.

Blair sempat kaget dengan tindakan pemimpin Barat, termasuk Presiden AS Barack Obama, yang merasa perlu untuk mengutuk Terry Jones, seorang pendeta yang mengancam akan membakar Al Quran.

"Misalkan seorang Imam, dengan tiga puluh pengikut, di Karachi ingin Alkitab (Injil)," katanya. "Saya nyaris tak bisa membayangkan seperti apa protes yang akan muncul. Tidak penting Presiden Pakistan mengutuk hal tersebut karena tidak akan ada di negara ini yang menganggapnya mendukung tindakan tersebut."

Mantan perdana menteri dan juga penjahat perang itu pun menyerukan agar Barat menegaskan pada Iran bahwa akuisisi mereka untuk mengembangkan bom nuklir tidak akan dapat diterima seluruh dunia yang memiliki peradaban.

Dia pun menekankan pencapaian penyelesaian 'damai' antara Israel dan Palestina akan menghilangkan "banyak racun yang bisa dimanfaatkan oleh para ekstrimis".

Sebagai penjahat perang, ia pun membela keputusannya untuk menyerang Irak dan Afghanistan dengan mengatakan bahwa itu adalah kebijakan yang memang harus diambil oleh seorang pemimpin negara, termasuk Bush. [adm/arrahmah]

Tidak ada komentar: